Sobat Budaya Makassar, Lestarikan Permainan Tradisional melalui kegiatan “PARASALAMA”

Senin, 15 April 2019 Komunitas Sobat Budaya Makassar (SBM) menggelar kegiatan Parasalama atau Permainan Rakyat Sulawesi Masuk Sekolah.  Kegiatan Parasalama berlangsung selama 2 hari berturut-turut yakni 15-16 April 2019 di SD Inpres Rappokalling II. Kegiatan Parasalama atau Permainan Rakyat Sulawesi Masuk Sekolah ini merupakan kegiatan yang ketiga kalinya, yang digelar oleh (SBM). M. Akbar Ali ketua SBM Tahun 2019 menuturkan bahwa kegiatan Parasalama ini dilaksanakan oleh SBM dengan tujuan; Pertama, sebagai upaya SBM  mengenalkan kembali jenis-jenis permainan tradisional kepada anak-anak . Kedua, meningkatkan kepedulian (masyarakat) terhadap kesenian tradisional. Terakhir, sebagai wujud usaha pelestarian terhadap budaya khususnya pada permainan tradisional sebagai salah satu media pendidikan bagi anak-anak. Kegiatan ini menampilkan berbagai ragam permainan anak di era 90-an yang dikemas dalam bentuk perlombaan. Alfiany Bahar salah satu anggota komunitas SBM menjelaskan beberapa permainan yang disajikan diantaranya permainan dende, asing-asing, engrang, bakiak, conglak, gundu, bekel dan lompat tali. Selain mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak sekolah, menurut Alfi yang terpenting dari kesemuanya ialah bagaimana nilai-nilai permainan tradisional itu sampai kepada anak-anak sekarang.

Sri Sumarni menyambung pernyataan Alfi  bahwa sebenarnya dalam permainan tradisional rakyat terkandung beberapa nilai yang tersirat; Misalnya, permainan engrang mengandung nilai kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Salah seorang dosen sejarah Universitas Hasanuddin Andi Lili Evita menegaskan bahwa selayaknya ragam budaya seperti permainan tradisional seperti ini hendaknya menjadi media pembelajaran bagi anak-anak sekolah, apalagi dalam menghadapi era 4.0 tentunya pendidikan diharapkan dapat lahir dari proses transformasi nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Semua ini dapat  terjadi apabila kita sebagai bagian dari masyarakat memiliki kesadaran akan jati dirinya; memiliki kesadaran untuk melestarikan nilai dan  mengembangkan kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan lahir dari proses berpikir, sehingga kematiannya adalah awal dari kematian pikiran manusia, atau awal dari kelatahan teknologi. (A.L.E SBM)